oleh: Master Sihotang
MEDAN: Kebun Binatang Medan (KBM), Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan, masih memerlukan pembenahan kalau mau dijadikan sebagai tempat edukasi dan rekreasi.
Kebun binatang yang dipindahkan dari Kampung Baru, Medan itu sudah sekitar tiga tahun menempati lokasi baru di Keluhan Simalingkar B, Kecamatan Tuntungan.
Persoalan yang muncul adalah pohon-pohon pelindung yang membuat suasana teduh seperti di Kebun Binatang Rangunan Jakarta, belum padu benar dengan suasana yang diinginkan para pengunjung. Hal ini dapat dimaklumi karena KBM Medan baru dipindah dari lokasi lama, Kampung Baru pada 2005 lalu.
Namun, bagi binatang yang menjadi penarik pengunjung ke KBM, kondisi saat ini sangat kurang nyaman, banyak binatang terlihat gelisah. Bahkan ada beberapa binatang seperti harimau Sumatra dan gajah yang didatangkan dari Tongkoh, Kabupaten Karo, mati karena kurang tahan dengan kondisi yang ada.
KBM selalu menjadi tempat favorit masyarakat di saat hari liburan dating, seperti saat Hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru, demikian juga pada setiap hari minggu. Hal itu disebabkan karena relatif murahnya biaya masuk ke KBM.
Kalau pada hari-hari biasa, Senin-Sabtu, pengunjung tidak begitu ramai walaupun karcis masuk diturunkan menjadi Rp3.750 (termasuk asuransi bagi pengunjung per orang). Di saat hari minggu atau libur, harga tiket Rp4.750 per orang.
Sepertinya, praktis pemasukan dari penjualan karcis belum bisa diandalkan untuk memelihara dan memperbaiki KBM menjadi tempat edukasi, konservasi, eksperimentasi, dan hiburan yang benar-benar menarik bagi warga Medan.
Di Medan saat ini, tempat rekreasi keluarga sangat minim, sehingga ada juga yang bepergian ke Sembahe, Kabupaten Deli Serdang, arah Berastagi, Kabupaten Karo. Atau ke Theme Park di Pantai Cermin yang dibangun investor Malaysia bersama investor lokal dari Medan.
Aslim Nur, seorang warga Binjai mengaku prihatin melihat kondisi KBM sebagai tempat rekreasi keluarga. Koleksi binatang yang ada, lanjutnya, relatif minim dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Kalau mau ambil perbandingan, tutur seorang wiraswasta ini, KBM kalah dengan Kebun Binatang Kota Pematang Siantar.
Semestinya, kata dia, Pemkot Medan bisa menata KBM lebih bagus lagi dengan menggelontorkan dana yang memadai untuk menata kawasan tersebut menjadi lebih baik dan nyaman. Selain itu, koleksi binatang perlu ditambah untuk menarik para pengunjung.
Demikian juga permainan anak-anak, perlu dibangun sehingga para pengunjung tidak hanya sekedar melihat binatang, tetapi juga dapat menikmati permainan lain.
Paling pokok, kata dia, jalan menuju KBM Medan perlu diperbaiki karena jalannya sudah berlubang, selain juga terlalu sempit. “Sudah waktunya jalan menuju KBM Medan dibuat dua arah, sehingga para pengunjung bisa masuk dengan tenang dan nyaman.”
Penataan Total
Sesungguhnya KBM sangat strategis dan memiliki arti penting bagi masyarakat Medan sekitarnya. Misi pembangunan KBM, sebagaimana disebutkan Mantan Dirut PD Pembangunan Chaidir Ritonga adalah konservasi satwa, edukasi satwa untuk masyarakat, eksperimentasi, serta sisi komersial berupa hiburan.
’’Misi konservasi satwa, edukasi, dan eksperimentasi, dimanapun di dunia ini selalu mendapatkan subsisi dari pemerintah, sedangkan sisi komersialnya baru dimanfaatkan untuk memelihara sarana dan prasarana di KBM itu sendiri,’’ katanya.
Ke depannya, tutur dia, PD Pembangunan akan menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Medan agar murid taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum (SMU) di Kota Medan memanfaatkan KBM sebagai tempat edukasi dan eksperimentasi.Namun untuk menjalankan hal itu, KBM perlu dibenahi total.
’’Kami sudah mengajukan proposal kepada Pemkot Medan untuk melakukan pembenahan KBM. Paling tidak dibutuhkan anggaran Rp5 miliar untuk membangun danau buatan di atas areal 5 hektare, agrowisata 10 hektare, membeli satwa, membangun perpustakan satwa, dan merenovasi tempat binatang peliharaan agar layak huni.’’
Tetapi sayangnya, tutur dia, sampai sekarang ini dana tersebut belum ada satu sen pun digelontorkan. ’’Padahal anggaran tersebut sudah disetujui DPRD Medan.’’
Luas areal KBM saat ini mencapai 30 hektare dan baru 10 hektare yang benar-benar dimanfaatkan untuk tempat berbagai satwa jenis reptil, mamalia, dan avec. Jadi, koleksi seluruh jenis binatang di KBM baru mencapai 125 ekor yang terdiri dari berbagai jenis a.l. burung dara mahkota dari Papua, macan tutul, orang utan, dan berbagai binatang reptil.
Kepala KBM Sucitrawan mengatakan sesungguhnya KBM bisa menjadi primadona pemasukan bagi kas daerah asalkan terlebih dulu ditata dan dilengkapi lebih baik dari saat ini sehingga bisa menjadi tempat rekreasi andalan bagi masyarakat Medan.
“Saat ini warga Medan memang haus tempat hiburan. Namun KBM belum mampu menjawab keinginan masyarakat tersebut karena keterbatasan dana. Bayangkan uang masuk dari penjualan karcis hanya Rp20 juta per bulan dan belum mampu mengelola KBM secara mandiri,” tandasnya.
Senin, 12 Januari 2009
KBM, Malang Nasibmu Kini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar